Hallo, assalamualaiakum^^
Alhamdulillah saya masih diberi kesempatan untuk menulis review buku
ketiga saya di Tahun 2018 yang saya baca di Bulan Maret lalu.Honestly
#OneBookOneMonth Challenge kalo dilakuinnya waktu perkuliahan itu sungguh
sangat berat. Bulan Maret kemarin, saya hampir nggak bisa menyelesaikan Novel
Bound ini! Tapi karena tekad yang kuat, tanggal 29 Maret novel Bound sudah saya
baca tuntas tapi baru menuliskannya sekarang hehe.
Novel Bound ini sebenarnya adalah versi Bahasa Inggris dari Novel Pasung
Jiwa teman-teman. Nah karena kemarin saya masih edisi pengen belajar Bahasa inggris
lewat buku, jadilah beli yang versi Bahasa inggris.
![]() |
| source : google.com |
![]() |
| source: google.com |
Judul Buku : Bound
Author : Okky Madasari
Isi : 282
halaman
Penerbit : PT Gramedia
Pustaka Utama
Sebenarnya mungkin novel Indonesia lebih asyik kalau baca versi aslinya dalam
Bahasa Indonesia ya, tapi karena pas itu lagi pengen banget sekalian ngelatih
Bahasa inggris so novel ini bisa jadi pilihan.
Sebenarnya,
genre novel ini bukan saya banget. Menceritakan tokoh utama yaitu Sasana dan
Cak Jek yang berusaha mencari kebebasan. Sasana , seorang remaja laki-laki yang
pintar banget di sekolahnya tapi suka banget dandan cewek dan nyanyi dangdut
(malah pengen banget jadi pedangdut professional) , dan Cak Jek yang entah tidak
tahu arah hidupnya kemana, antara ingin menjadi musisi terkenal dan professional
atau pekerja pabrik hingga masuk organisasi gerakan Islam yang radikal.
Susah untuk
menjelaskan novel ini karena bahasan dan alurnya yang cukup berat dan rumit
namun menarik untuk diikuti. Cerita-cerita pilu yang dialami Sasana dan Cak Jek
dalam meraih kebebasan. Saya berani bilang tema yang diangkat oleh bu Okky ini
cukup berani.
Namun saya
kurang setuju sama novel ini, karena itu tadi,bukan saya banget. Dari segi keislaman, tentu saya
nggak setuju dong Sasana yang dikodratkan menjadi seorang laki-laki malah
pengen jadi perempuan. Menurut saya itu bukan mencari kebebasan. Itu mah
namanya penyakit psikologi. Dan bisa disembuhkan bila dilakukan terapi rutin.
Karena sekali lagi itu bukan kodratnya.
Di tengah
ceritanya, ada saat dimana Sasana ingin menunjukkan pada keluarganya (yang
terdiri dari Ayah,Ibu dan adik perempuan) sosok Sasana yang berbeda (yaitu
sasana yang feminim dan ala cewek banget) . Dan diceritakan bahwa si ayah ini
syok banget dan nggak menganggap Sasana sebagai anaknya lagi. Ya … memang sih
jujur kalau ini terjadi di keluarga saya juga, mungkin bapak saya juga akan
begitu. Karena itu bukan kodratnya (lagi-lagi). Hanya ibu Sasana yang menerima Sasana
apa adanya.
Namun ada
beberapa pesan yang juga bisa diambil dari novel ini. Contohnya tentang anak
Cak Man (teman Cak Jek dan Sasana) yang dibunuh bos pabriknya gara-gara
menanyakan untuk kenaikan gaji. Dan digambarkan bahwa kadang orang yang berduit
itu semena-mena. Dari cerita tersebut menginspirasi kita untuk tetap
memperjuangkan kebenaran dan berani untuk melawan mereka yang kuat (meskipun endingnya mereka kalah dengan orang berduit)
namun itulah realitanya. Di Indonesia sekalipun, kalo lo ngga berduit yaudah
ngga bakal bisa apa-apa. Sama persis dengan yang digambarkan dari novel ini.
Atau masa kelam
Sasana ketika di sekolah, ketika ia dibully dan ayahnya tidak bisa menindak si
pebully karena ayahnya si pebully adalah “orang-orang penting”. Sekali lagi ini
mah prakteknya juga banyak banget di Indonesia. Lalu kira-kira, bagaimana kita
sebagai masyarakat biasa bisa melawan orang-orang seperti itu?
Intinya novel
ini selain mencari kebebasan, mereka juga berusaha mencari jati diri. Sungguh
novel ini berat banget (apalagi pake Bahasa Inggris) itulah kenapa saya memakan
waktu lama untuk menghabiskan novel ini. Karena mungkin saya hanya mengikuti
alur hidup saya yang normal makanya saya tidak merasakan apa yang dirasakan
mereka? Tapi saya jamin di luar sana pasti banyak banget yang mengalami seperti
Sasana dan Cak Jek.
Rating pribadi
:5/10 (karena asli ini berat banget tapi bukan saya banget dan saya ngga setuju
sama endingnya hehehe). Karena endingnya Sasana dan Cak Jek kembalik busking
sebagai penyanyi dangdut, saya kurang setuju karena saya jadi bertanya-tanya,
inikah kebebasan yang sebenarnya? Okelah kalau untuk Cak jek nggak masalah.
Tapi untuk Sasana? Woyyy itu bukan kodrat elu. Apakah itu yang namanya
kebebasan?
Kalau ngomongin
kebebasan, saya mah sebagai perempuan juga kadang pengen banget lepas jilbab
karena rambut saya yang bagus dan kadang kalau siang panas banget rasanya pake
jilbab. Namun saya inget, menutup aurat
adalah kewajiban saya. Maka saya tidak melakukan itu. Dan itu bukanlah
kebebasan yang hakiki. Jadi intinya novel ini menarik untuk dibaca, tapi
kembali ke pembaca kira-kira pembaca bisa menerima pesannya dengan baik atau
tidak karena kalau saya , saya kurang bisa menerima maksud novel ini. Sekali lagi
saya bingung dengan kebebasan yang dimaksudkan di novel ini hehe….Saya jadi ingin mencari tahu kebebasan seperti apa sih yang saya inginkan/harapkan? karena saya merasa hidup saya normal-norma saja seperti orang lain pada umumnya. Apakah selama ini saya hanya ikut-ikutan saja, ataukah sebenarnya ada rasa memberontak atau tidak setuju dalam diri saya seperti Sasana/Cak jek ataukah ini sudah benar-benar diri saya? Apakah saya sudah bebas sekarang?
Dan ini adalah
novel pertama bu Okky Madasari yang saya baca. Saya sering baca di internet
kalau beliau ini suka bikin novel yang genre nya agak “berani”. Saya jadi ingin
menantang diri saya untuk membaca novel beliau yang lain.
Sekian review
dari saya, semoga bisa bermanfaat dan see you next time di buku ke empat di
Bulan April ^^


Komentar
Posting Komentar