Assalamualaikum
teman-teman. Bagaimana kabarnya? Sehat? Alhamdulillah.
Nah salah satu
resolusi Sherly di 2018 adalah 1 book 1 month challenge dan menuliskan
reviewnya di blog ! Mungkin kalau lagi liburan gini ngikutin challenge itu
sangatlah gampang ya. Apalagi saya sekarang sudah menyelesaikan buku pertamsaya
di Bulan Januari yaitu Anak Rantau by Ahmad Fuadi. Well kenapa saya nggak maksa
2 books 1 month challenge karena nanti ketika saya sudah masuk kuliah, saya bakalan
sibuk banget sama tugas ya teman-teman (re:praktikum Public Relations 2) Well
daripada resolusi ini gagal, maka alangkah lebih baiknya saya membuat resolusi
yang measurable dan sesuai dengan kapasitas kemampuan saya. Yuk Check It out my
first book review below! anyway saya sebenarnya menulis ini ketika bulan Januari ya setelah tuntas membaca bukunya. Namun apa daya baru bisa upload sekarang hehee
Judul Buku :
Anak Rantau
Author :
Ahmad Fuadi
Isi :
382 Halaman
Penerbit :
Falcon Publishing
Saya
merupakan salah satu penggemar tulisanAhmad Fuadi. Saya sangat suka tulisan beliau dari zaman
Negeri 5 Menara hingga Ranah 1 Warna. Kemudian baru-baru ini baru membeli buku
Anak Rantau, karya terbaru beliau yang sebenarnya sudah dipublish sejak Juli
2017 bahkan yang saya beli ini sudah cetakan ketiga haha betapa kudetnya
saya.
Novel ini
diawali dengan cerita yang sangat menegangkan dimana Hepi (pemeran utama) , Zen dan Attar yang hendak
dibunuh oleh segerombolan manusia yang tampaknya sangat kejam. Setelah itu
barulah cerita dimulai dari awal. Sangat menegangkan bagi saya dan rasanya
ingin tahu kenapa Hepi hendak dibunuh dan akankah ia benar-benar dibunuh?
Apakah ini novel pertama Ahmad Fuadi yang mengkisahkan tokoh utamanya
meninggal? Karena di bab awal Nampak Hepi dan kawan-kawan tak lagi memiliki
harapan. Makanya saya tak hentinya membaca hingga bab akhir.
Saya
sangat suka dengan alur ceritanya karena setiap bab itu selalu ada intisari dan
cerita yang nggak bakalan bikin bosan.
Adapun tokoh-tokoh yang digambarkan dengan jelas seperti Hepi
digambarkan sebagai anak Jakarta yang sangat songong dan Zen Attar yang
digambarkan sebagai anak desa yang iri dengan Hepi namun masih saja mau
berkawan dengannya bahkan jadi sahabat baik. Kakek Hepi yang mendidik dengan
keras, Nenek Hepi yang penyabar dan Ayah Hepi (Martiaz) yang sepertinya kehilangan
harapan untuk mendidik Hepi sehingga menitipkan anaknya kepada orang tuanya .
Terkadang saya mampu melihat diri saya pada Hepi. Sosok yang sangat ingin
mencari perhatian ayah saya karena saya pribadi tidak dekat dan jarang bertemu dengan ayah saya. Dan Hepi sangat mirip dengan saya dimana seorang yang sok pemberani hahaha. Sebagai anak Jakarta dia
ingin membuktikan bahwa dia itu berani dan tidak ada yang perlu ditakutkan.
Karena hidup itu keras.
Namun
di tengah-tengah membaca saya sudah bisa menebak kalau pengedar narkoba itu
adalah Lenon (karakter preman yang digambarkan sudah bertaubat) dan kawan-kawan. Well
mungkin Bang Lenon memang digambarkan sebagai preman tobat yang sudah agamis
tapi dari gerak-geriknya yang memarahi Hepi habis-habisan hanya karena masalah sepele
yaitu Hepi yang hanya meletakkan pesanan tetangganya di depan rumah . Masa
masalah itu saja Hepi sampai dibully semua preman . Pasti ada apa-apa pikirku
dan ternyata benar saja.
Adapun
pesan-pesan yang dapat kita petik dari Novel ini. Seperti Pandeka Luko yang
diasingkan warga padahal ia sudah berjasa untuk Indonesia. Bisik-bisik negative warga desa yang menyebar fitnah dan memang masih kerap
terjadi di pedesaan. Disini kita diingatkan untuk jangan langsung percaya
terhadap suatu hal . harus kita kroscek dulu. Sepeti Hepi yang memberanikan
diri untuk bertemu langsung dengan Pandeka Luko ditengah gossip-gosip
menyeramkan tentangnya. SALUT!
Akhir
Novel ini diceritakan bahagia. Hepi bertemu lagi dengan bapaknya. Hanya saja
yang kurang adalah kelanjutan si kakek. Maksud saya disini kan kakek juga
diceritakan sebagai orang yang dahulu telah gagal mendidik anaknya dan ingin
menebusnya melalui cucunya. Hanya saja di ending kurang dijelaskan gimana kabar
si kakek setelah menyelamatkan Hepi. Apakah ia sudah merasa berhasil? Ataukah
belum? We’ll never know.
Yang
saya suka dari karya Ahmad Fuadi ini adalah beliau selalu berhasil membawa
kearifan lokal Budaya Minang! Dari Negeri 5 menara hingga Anak Rantau ini beliau mengambil tokoh
utama seorang darah Minang. Saya senang
sekali karena saya bisa membayangkan, bisa belajar Budaya Minang seperti saya
ikut langsung terjun ke dalam cerita. Meskipun saya tidak bisa berbahasa
Minang, namun ketika saya membaca novel ini saya seperti menjadi orang Minang!
Dan memahami adat-adat yang ada di sana. Salah satu media yang asyik bagi saya
untuk belajar tentang Budaya Indonesia apalagi Budaya Minang yang sukar ditemui
di Jawa. Saya harap kelak saya bisa menulis tetapi juga mampu mengenalkan
Budaya Jawa seperti Ahmad Fuadi ini. Well langkah pertamanya adalah saya harus
tahu dulu dengan baik Budaya Jawa saya ini hehe. Saya sangat merasa bersalah
ketika saya tidak terlalu memahami budaya sendiri. Sedih sekali.
Namun
sayangnya karena sangat kearifan local itulah terkadang saya tidak paham
terhadap beberapa kosakata yang ada di novel Anak Rantau. Dan ternyata eh
ternyata setelah cerita nya selesai, barulah ada glosarium kata-kata sulit tadi
:D Well saya mana tahu, hehe alangkah lebih baik kalau vocab yang susah tadi
dijelaskan di foot note. Jadi pembaca langsung tahu begitu. Atau mungkin saya
kurang teliti karena tidak mengecek ada glosariumnya atau tidak.
Overall saya kasih rating pribadi 8/10 karena saya sangat suka dengan novel ini. Novel
ini enak dibaca, banyak pelajaran kehidupan yang dapat dipetik. Selain itu
sebagai media untuk memahami Budaya Minang! Ditunggu karya selanjutnya Pak
Ahmad Fuadi ^^ I’m your big fans^^
Well sekian review dari saya. Mohon maaf kalau
semrawut karena ini kali pertama saya mereview buku. See you next month untuk
buku kedua ^^ kira-kira apa buku kedua saya? R-A-H-A-S-I-A ^^
Wassalamualaikum wr. wb

Komentar
Posting Komentar